Ketidaksadaran Digital Menjadi Akar Suburnya Hoaks Dikalangan Muda

DEPOKPOS – Setiap hari, ratusan informasi berseliweran di layar ponsel anak muda. Dari video TikTok hingga unggahan di Instagram dan Twitter (X), semuanya terlihat meyakinkan—apalagi jika tampilannya keren dan viral. Namun, tak sedikit dari informasi itu yang keliru, bahkan hoaks.

Ironisnya, generasi yang disebut paling melek teknologi justru menjadi kelompok yang paling rentan termakan informasi palsu.

Pertanyaannya: mengapa ini bisa terjadi?

Bacaan Lainnya

Bukan Kurang Akses, Tapi Kurang Sadar

Generasi muda saat ini tidak kekurangan akses. Hampir semua pelajar memiliki smartphone dan terkoneksi internet. Namun, akses bukan jaminan kesadaran. Yang terjadi justru ledakan informasi tanpa kontrol, di mana semua hal tampak benar karena dikemas menarik dan diulang-ulang.

Menurut survei MAFINDO dan Kemenkominfo tahun 2023, lebih dari 45% remaja mengaku pernah menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Bukan karena niat jahat, tetapi karena mereka belum dibekali kemampuan literasi digital yang cukup. Ini bukan soal bisa memakai teknologi, tapi soal menyadari dampaknya.

Gagal Membedakan Fakta dan Narasi

Hoaks masa kini tidak lagi hadir dalam bentuk kasar atau primitif. Ia tampil canggih, penuh narasi emosional, dan sering menyasar keresahan anak muda: isu sosial, politik, bahkan kesehatan mental. Sayangnya, anak muda sering kali tidak diajarkan untuk membedakan antara data dan opini, antara analisis dan manipulasi.

Ketidaksadaran digital membuat mereka mudah terbawa arus algoritma yang memperkuat bias, bukan logika. Mereka merasa tercerahkan padahal sedang terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang memperkuat satu sisi saja.

Pendidikan Gagal Mengimbangi

Kurikulum sekolah yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru tertinggal. Pelajaran TIK masih berkutat pada cara mengetik di Word dan membuat slide PowerPoint, tanpa menyentuh esensi literasi digital: berpikir kritis terhadap informasi.

Sementara di luar sekolah, algoritma bekerja 24 jam. Tanpa bekal yang cukup, anak muda seperti dilempar ke hutan informasi tanpa kompas.

Saatnya Pendidikan Membuka Mata

Literasi digital tidak bisa hanya diserahkan ke seminar tahunan atau konten pemerintah yang kaku. Ia harus menjadi bagian dari budaya belajar—dibahas di kelas, dijadikan proyek, dikaitkan dengan pelajaran lain, dan terutama: dikaitkan dengan pengalaman digital mereka sehari-hari.

Guru tidak harus menguasai semua platform media sosial, tapi harus berani membuka diskusi: “Kenapa kamu percaya info itu? Sumbernya apa? Ada pendapat lain?”

Kesadaran Digital Itu Mendesak

Generasi muda adalah pengguna media digital terbanyak, tapi juga kelompok yang masa depannya paling dipertaruhkan jika terus terpapar informasi salah. Kesadaran digital bukan sekadar kemampuan teknis, tapi cara berpikir. Membedakan mana yang layak dipercaya, dan mana yang hanya sensasi.

Kalau tidak dibekali dengan itu, maka hoaks akan terus tumbuh subur. Bukan karena teknologi yang jahat, tapi karena pengguna yang lengah.

Syifa Aulia Fitriani
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang.

Pos terkait